,


    بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
    1. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. [1] [1] Maksudnya: saya memulai membaca al-Fatihah ini dengan menyebut nama Allah. Setiap pekerjaan yang baik, hendaknya dimulai dengan menyebut asma Allah, seperti makan, minum, menyembelih hewan dan sebagainya. Allah ialah nama zat yang Maha Suci, yang berhak disembah dengan sebenar-benarnya, yang tidak membutuhkan makhluk-Nya, tapi makhluk yang membutuhkan-Nya. Ar Rahmaan (Maha Pemurah): salah satu nama Allah yang memberi pengertian bahwa Allah melimpahkan karunia-Nya kepada makhluk-Nya, sedang ar Rahiim (Maha Penyayang) memberi pengertian bahwa Allah senantiasa bersifat rahmah yang menyebabkan Dia selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada makhluk-Nya.
    الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
    2. Segala puji [2] bagi Allah, Tuhan semesta alam. [3] [2] Alhamdu (segala puji). Memuji orang adalah karena perbuatan- nya yang baik yang dikerjakannya dengan kemauan sendiri. Maka memuji Allah berrati: menyanjung-Nya karena perbuatanNya yang baik. Lain halnya dengan syukur yang berarti: mengakui keutamaan seseorang terhadap ni'mat yang diberikannya. Kita menghadapkan segala puji bagi Allah ialah karena Allah sumber dari segala kebaikan yang patut dipuji. [3] Rabb (Tuhan) berarti: Tuhan yang ditaati Yang Memiliki, Mendidik dan Memelihara. Lafadz ”rabb” tidak dapat dipakai selain untuk Tuhan, kecuali kalau ada sambungannya, seperti rabbul bait (tuan rumah). 'Alamiin (semesta alam): semua yang diciptakan Tuhan yang terdiri dari berbagai jenis dan macam, seperti: alam manusia,alam hewan, alam tumbuh-tumbuhan, benda-benda mati dan sebagainya. ALlah pencipta semua alam-alam itu.
    الرَّحْمـنِ الرَّحِيمِ
    3. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
    مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
    4. Yang menguasai [4] di Hari Pembalasan [5] [4] Maalik (Yang Menguasai) dengan memanjangkan ”mim”,ia berarti: pemilik. Dapat pula dibaca dengan ”Malik” (dengan memendekkan mim), artinya: Raja. [5] Yaumiddin (Hari Pembalasan): hari yang diwaktu itu masing-masing manusia menerima pembalasan amalannya yang baik maupun yang buruk. Yaumiddin disebut juga yaumulqiyaamah, yaumul- hisaab, yaumuljazaa' dan sebagainya.
    إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
    5. Hanya Engkaulah yang kami sembah [6], dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. [7] [6] Na'budu diambil dari kata 'ibaadat: kepatuhan dan ketundukkan yang ditimbulkan oleh perasaan terhadap kebesaran ALlah, sebagai Tuhan yang disembah, karena berkeyakinan bahwa Allah mempunyai kekuasaan yang mutlak terhadapnya. [7] Nasta'iin (minta pertolongan), terambil dari kata isti'aanah: mengharapkan bantuan untuk dapat menyelesaikan suatu pekerjaan yang tidak sanggup dikerjakan dengan tenaga sendiri.
    اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ
    6. Tunjukilah [8] kami jalan yang lurus, [8] Ihdina (tunjukilah kami), dari kata ”hidayaat”: memberi petunjuk ke suatu jalan yang benar. Yang dimaksud dengan ayat ini bukan sekedar memberi hidayah saja, tetapi juga memberi taufik.
    صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ
    7. (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni'mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. [9] [9] Yang dimaksud dengan ”mereka yang dimurkai” dan ”mereka yang sesat” ialah semua golongan yang menyimpang dari ajaran Islam.

    ,

    Kewajiban berpuasa ditegaskan dalam Al-Quran. Ayat-ayat Quran juga menyebutkan Ramadhan sebagai Syahrul Quran dan pahala yang besar bagi yang berpuasa. 

    PUASA (Shaum) adalah Rukun Islam keempat setelah Syahadat, Shalat, dan Zakat. Puasa wajib dilakukan umat Islam setahun sekali, yakni dalam bulan Ramadhan, setiap hari selama sebulan penuh.

    Berikut ini AYAT-AYAT PUASA RAMADHAN yang menegaskan kewajiban puasa pada bulan Ramadhan dan hal-hal yang terkait dengan ibadah shaum.

    "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa." (QS. Al-Baqarah:183)

    "(Yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa di antara kalian ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka) maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagi kalian, jika kalian mengetahui" (QS. Al-Baqarah:184)

    “Bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan Al- Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan- penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dengan yang bathil ), karena itu barangsiapa diantara kamu menyaksikan (masuknya bulan ini), makahendaklah ia puasa(QS. Al-Baqarah:185).

    "Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan Puasa bercampur dengan istri-istri kamu; mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri`tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa." (QS. Al-Baqarah:187).

    "Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar." (QS. Al-Ahzab:35).

    Semoga kita diberi kekuatan dan keberkahan sehingga mampu melaksanakan ibadah puasa Ramadhan dengan baik dan benar. Amin....! 


    Al-Quranul Karim diturunkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala sekitar 1400 tahun yang lalu atau sama dengan 14 abad yang lalu. Masa di mana ilmu pengetahuan dan sains belum berkembang pesat, saat dimana mikroskop dan teleskop belum diciptakan, bahkan untuk berkomunikasi masih melalui surat. Tetapi Al-Quran yang merupakan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyimpan banyak ilmu pengetahuan dan sains yang baru terungkap ratusan tahun setelah Al-Quran diturunkan. Misalnya saja tentang proses penciptaan (kejadian) manusia yang secara jelas dan lengkap diterangkan Al-Quran.

    Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik. (Q.S. Al-Mu’minuun : 12-14)

    Para ilmuwan di bidang Biologi khususnya di bidang embriologi tidak pernah menyangkal ayat di atas, bahkan sebagian mereka merasa takjub akan mukjizat ini. Itulah salah satu bukti bahwasannya Al-Quranul Karim adalah benar-benar wahyu dan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bukti lainnya adalah ternyata 1400 tahun yang lalu Al-Quran sudah menjelaskan bahwasannya matahari itu terbit dari timur.

    Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: "Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan," orang itu berkata: "Saya dapat menghidupkan dan mematikan."Ibrahim berkata: "Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat," lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (Q.S. Al-Baqarah : 258)

    Di ayat tersebut menjelaskan tentang perdebatan Nabi Ibrahim ‘Alaihissalaam dengan Raja Namrudz yang membahas tentang Tuhannya Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam yaitu Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam menjelaskan bahwasannya Tuhannya ialah Yang menghidupkan dan mematikan, kemudianRaja Namrudz juga menjawabnya bahwa dia juga mampu menghidupkan dan mematikan. Maksudnya Raja Namrudz menghidupkan ialah membiarkan hidup, dan yang dimaksudnya dengan mematikan ialah membunuh. Perkataan itu untuk mengejek Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam. Setelah itu Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam menjelaskan bahwasannya Allah Subhanahu Wa Ta’ala menerbitkan matahari dari timurdan menantang Raja Namrudz kalau dia mampu maka coba terbitkan matahari itu dari barat, maka Raja Namrudz pun terdiam.

    Dari ayat di atas, Allah Subhanahu Wa Ta’ala ingin menjelaskan bahwasannya matahari diterbitkan dari timur tetapi melalui lisan Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam. Maka dari itu secara tidak langsung Al-Quran mengatakan bahwasannya matahari itu terbit dari timur.


    Semoga bermanfaat.

    , ,

    Ramadhan segera tiba. Bagaimana Cara Menyambut Bulan Ramadhan sesuai dengan Al-Quran dan Hadits?
    IKLAN sarung dan sirup sudah muncul di layar televisi. Promo acara atau siaran Ramadhan juga sudah bermunculan di berbagai stasiun televisi. Itulah cara media dan pengiklan (pengusaha) menyambut Ramadhan dalam konteks bisnis (marketing).

    Lalu, bagaimana cara kita sebagai Muslim menyambut Ramadhan? Para ustadz dalam ceramahnya sering mengemukakan, dalam menyambut Ramadha, kita harus siapkan:
    1. Mental --yakni kesiapan hati, niat, dan tekad mendirikan Ramadhan dengan puasa dan ibadah lainnya.
    2. Fisik --yakni kesiapan fisik berupa badan yang sehat, menjaga kesehatan, agar tetap bugar dan kuat selama Ramadhan.
    3. Ilmu --yakni ilmu tentang puasa dan ibadah Ramadhan lainnya, mulai dari rukun, syarat, hingga teknis (tata cara) yang sesuai dengan Sunnah Rasulullah Saw.
    Dalam "Bagaimana Menyambut Bulan Suci Ramadhan" Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah yang dipublikasikan Islam House disebutkan, umat Islam harus bergembira dengan kedatangan Ramadhan, karena bulan suci ini penuh berkah dan rahmat Allah SWT, sebagaimana sabda Rasulullah Saw:


    "Ketika datang malam pertama dari bulan Ramadhan seluruh setan dibelenggu, dan seluruh jin diikat. Semua pintu-pintu neraka ditutup, tidak ada satu pintu pun yang terbuka. Semua pintu sorga dibuka hingga tidak ada satu pun pintu yang tertutup. Lalu tiap malam datang seorang yang menyeru: "Wahai orang yang mencari kebaikan kemarilah; wahai orang yang mencari keburukan menyingkirlah. Hanya Allah lah yang bisa menyelamatkan dari api neraka".(H.R.Tirmidzi).

    "Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah telah mewajibkan di dalamnya puasa. Pada bulan itu Allah membuka pintu langit, menutup pintu neraka, dan membelenggu setan-setan. Di dalamnya Allah memiliki satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barang siapa yang diharamkan kebaikan malam itu maka ia sungguh telah diharamkan (dari kebaiakan).” (HR. Nasa’i dan Baihaki). 

    Tata Cara Menyambut Ramadhan

    Ramadhan adalah anugerah Allah yang luar biasa. Ramadhan adalah kesempatan untuk menyiapkan masa depan kita di dunia dan akhirat; oleh karenanya kita mesti mempersiapkan kehadirannya dengan persiapan yang paripurna agar kita bisa sukses meraih gelar takwa dan mendapat janji Allah yaitu ampunan dan bebas dari api neraka.

    Perkara yang harus dipersiapkan menjelang kedatangan Ramadhan antara lain sebagai berikut:
    1. Niat yang sungguh-sungguh
    2. Bertobat dengan sebenar-benarnya (Taubatan Nasuha)
    3. Membekali diri dengan ilmu puasa dan ibadah Ramadhan lainnya.
    4. Menyiapkan fisik --antara lain dengan "latihan" puasa sunah selama bulan Sya'ban.

    Amalan Sunah Selama Ramadhan

    Selain puasa yang wajib dilakukan umat Islam, ada sejumlah amalan sunah di bulan Ramadhan, antara lain:
    1.  Baca dan Khatam Al-Quran
    2. Shalat Tarawih
    3. Perbanyak dzikir dan doa
    4. Perbanyak sedekah, termasuk sedekah makanan-minuman untuk berbuka puasa
    5. I'tikaf di 10 hari terakhir Ramadhan
    6. Umroh bagi yang mampu
    7. Perbanyak amal saleh lainnya, termasuk berbuat baik kepada sesama.
    Downwload File Pdf Cara Menyambut Ramadhan

    Demikian tata cara Cara Menyambut Bulan Ramadhan. Semoga kita mampu melaksanakannya. Amin...! Wallahu a'lam bish-shawabi.

    ,

    Setidaknya ada lima Amalan Penghapus Dosa karena Allah SWT Maha Pengampun.

    MANUSIA tidak lepas dari khilaf sehingga sering berbuat dosa (melanggar aturan Allah Swt). Pepatah Arab mengatakan, Al-Insanu Mahalul Khoto wan Nisyan, manusia itu tempatnya salah dan lupa.

    Tidak ada manusia yang sempurna kecuali Nabi Muhammad Saw yang memiliki budi pekerti yang agung (khuluqin adzim), teladan yang baik (uswatun hasanah), dan dijaga oleh Allah dari perbuatan dosa (ma'shum).


    Pengertian Dosa dalam Islam

    Dosa adalah konsep Islam adalah perbuatan maksiat atau melanggar larangan Allah SWT. Rasulullah Saw menyatakan, dosa itu kebalikan dari perbuatan baik. Dosa, sabda Nabi Saw, akan membuat gelisah hati seorang mukmin dan merasa malu jika perbuatan buruknya itu diketahui orang lain.

    الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ وَاْلإِثْمُ مَا حَاكَ فِي نَفْسِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ . [رَوَاهُ مُسْلِم]

    “Kebajikan itu adalah budi pekerti yang baik, dan dosa itu adalah segala sesuatu yang menggelisahkan perasaanmu dan yang engkau tidak suka bila dilihat orang lain.” (HR. Muslim).

     Karena kasih-sayang-Nya, Allah SWT Maha Pengampun. Allah SWT selalu berkehendak menghapus atau mengampuni semua dosa hamba-hamba-Nya.

    "Katakanlah! Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampunkan semua dosa” (QS. Az-Zumar:53).

    Dalam sebuah Hadits Qudsi disebutkan, Allah Ta’ala berfirman:

    قَالَ اللَّهُ يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِى وَرَجَوْتَنِى غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلاَ أُبَالِى يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِى غَفَرْتُ لَكَ وَلاَ أُبَالِى يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِى بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِى لاَ تُشْرِكُ بِى شَيْئًا لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

    ”Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau menyeru dan mengharap pada-Ku, maka pasti Aku ampuni dosa-dosamu tanpa Aku pedulikan. Wahai anak Adam, seandainya dosamu membumbung tinggi hingga ke langit, tentu akan Aku ampuni, tanpa Aku pedulikan. Wahai anak Adam, seandainya seandainya engkau mendatangi-Ku dengan dosa sepenuh bumi dalam keadaan tidak berbuat syirik sedikit pun pada-Ku, tentu Aku akan mendatangi-Mu dengan ampunan sepenuh bumi pula.” (HR. Tirmidzi).

    5 Amalan Penghapus Dosa

    Berikut ini 5 amalan penghapus dosa.

    1. TOBAT

    Tobat adalah menyatakan penyesalan, memohon ampunan kepada Allah, dan berjanji tidak mengulangi perbuatan yang melanggar aturan-Nya.

    "Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (Al-Baqarah: 37).

    “Dan Dialah (Allah) yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Asy-Syura: 25)

    “Bahwa Allah membentangkan tangan-Nya di malam hari untuk menerima taubat orang-orang yang berbuat jelek di siang hari dan membentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat orang-orang yang berbuat jelek di malam hari sehingga matahari terbit dari arah barat.”(HR. Muslim).

    “Orang yang bertaubat dari dosanya bagaikan orang yang tidak mempunyai dosa sama sekali” (HR. Ibn Majah, Sahih al-Jami’).

    Cara tobat yaitu dengan memanjatkan doa memohon ampunan dan/atau shalat taubat. Doa paling ringkas adalah istighfar. Doa panjang antara lain sebagaimana tercantum dalam hadits Shahih Bukhari dan Muslim berikut ini:


    اللَّهُمَّ إِنِّى ظَلَمْتُ نَفْسِى ظُلْمًا كَثِيرًا وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ ، فَاغْفِرْ لِى مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ ، وَارْحَمْنِى إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ »

    "Alloohumma innii zholamtu nafsii zhulman katsiiron wa laa yaghfirudz dzunuuba illa anta faghfirlii maghfirotan min 'indika warhamnii innaka antal ghofuurur rohiim"

    "Ya Allah, sungguh aku telah menzhalimi diriku sendiri dengan kezhaliman yang banyak, sedangkan tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau. Maka itu ampunilah aku dengan suatu pengampunan dari sisi-Mu, dan rahmatilah aku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang  (HR. Bukhari dan Muslim).

    Shalat Tobat adalah shalat dua rakaat lalu meminta ampun kepada Allah SWT dengan doa istighfar dalam bahasa apa saja, termasuk doa minta ampun dalam hadits di atas.

    “Tidaklah seorang hamba melakukan dosa kemudian ia bersuci dengan baik, kemudian berdiri untuk melakukan shalat dua raka’at kemudian meminta ampun kepada Allah, kecuali Allah akan mengampuninya.” Kemudian beliau membaca ayat ini: “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (HR. Tirmidzi, Abu Daud, dan  Ibnu Majah).

    2. ISTIGHFAR

    Istighfar adalah memohon ampun kepada Allah Swt dengan kalimat "Astaghfirullahal'adzim"atau kalimat lain yang semakna.

    "Beristighfarlah kamu kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun..." (QS. Nuh:10).

    "Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat." (QS.Hud : 3).

    "Barangsiapa beristighfar secara rutin, pasti Allah memberinya jalan keluar dalam kesempitan dan memberi rezeki yang tiada terhingga padanya." (HR. Abu Daud).

    3. SEDEKAH

    Sedekah yaitu menyisihkan sebagian harta untuk membantu orang yang membutuhkan (kaum dhuafa) dan mendanai dakwah atau syiar Islam.

    Sedekah bisa diartikan juga dengan mengeluarkan harta yang tidak wajib di jalan Allah (selain zakat). Sedekah juga meliputi bantuan nonmateri atau ibadah-ibadah fisik nonmateri, seperti menolong orang lain dengan  tenaga dan pikiran, mengajarkan ilmu, bertasbih, dan berdzikir.

    "Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api" (HR. Tirmidzi).

    “Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (QS. Al Hadid: 18).


    4. SABAR MENGHADAPI MUSIBAH/UJIAN

    Musibah, seperti sakit, termasuk penghapus dosa, selama kita bersabar dan tawakal kepada Allah Swt atas ujian tersebut.

    “Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla berfirman, “Sesunguhnya apabila Aku menguji seorang hamba-Ku yang mukmin, lalu ia memuji-Ku atas ujian yang Aku timpakan kepada-Nya, maka ia bangkit dari tempat tidurnya (dalam keadaan) bersih dari dosa seperti hari ibunya melahirkannya.“ (HR. Ahmad).

    Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya”. (HR. Bukhari dan Muslim).

    Tidaklah seseorang muslim ditimpa keletihan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, kegundah-gulanan hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan sebagian dari kesalahan-kesalahannya”. (HR Bukhari).

    Tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit yang terus menerus, kepayahan, penyakit, dan juga kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengan dosa-dosanya”. (HR. Muslim).

    Bencana senantiasa menimpa orang mukmin dan mukminah pada dirinya, anaknya dan hartanya, sehingga ia berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak ada kesalahan pada dirinya” (HR. Tirmidzi, Ahmad, Al-Hakim, Ibnu Hibban).

    Sesungguhnya Allah benar-benar akan menguji hamba-Nya dengan penyakit, sehingga ia menghapuskan setiap dosa darinya”. (HR. Al-Hakim).

    Tidaklah seorang muslim tertusuk duri atau yang lebih dari itu, melainkan ditetapkan baginya dengan sebab itu satu derajat dan dihapuskan pula satu kesalahan darinya”. (HR. Muslim).

    Janganlah kamu mencaci-maki penyakit demam, karena sesungguhnya (dengan penyakit itu) Allah akan menghapuskan dosa-dosa anak Adam sebagaimana tungku api menghilangkan kotoran-kotoran besi”. (HR. Muslim).

    5. MELAKUKAN AMAL KEBAIKAN

    Amal kebaikan (amal saleh), seperti mengerjakan ibadah wajib (shalat, zakat, puasa, haji) dan ibadah sunah seperti shalat malam, juga menolong sesama, senyum (menyenangkan orang lain), membaca Al-Quran, berkata-kata yang baik, menyempurnakan wudhu, dapat menghapuskan dosa.

    "Sesungguhnya kebaikan itu menghapuskan keburukan, yang demikian itu adalah peringatan bagi orang orang yang ingat." (QS. Hud:114).

    Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan: "Sesungguhnya melakukan kebaikan itu menghapuskan dosa dosa silam".

    Rasulullah Saw bersabda: "Dan ikutilah keburukan itu dengan kebaikan kerana (pahala) kebaikan itu dapat menghapuskan (dosa) keburukan". (HR. Ahmad, Tirmidzi, Hakim, dan Tabrani).

    “Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada, ikutilah kejelekan dengan kebaikan yang menghapusnya dan bergaullah dengan sesama manusia dengan akhlak (perangai/perilaku) yang baik.” (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad).

    “Shalat lima waktu dan Jum’at ke Jum’at dan Ramadhan ke Ramadhan adalah penghapus dosa di antara keduanya selama dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim).

    “Hendaklah kalian shalat malam, kerana ia adalah adat orang yang salih sebelum kalian dan amalan yang mendekatkan diri kepada Rabb kalian serta penghapus kesalahan dan mencegah dosa-dosa.” (HR. Al-Hakim).

    “Sesungguhnya termasuk sebab mendapatkan ampunan adalah memberikan salam dan berkata baik.” (HR. Al-Kharaithi)

    “Mahukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang dapat menghapus dosa dan mengangkat darajat. Mereka menjawab: ya, wahai Rasulullah. Beliau berkata: sempurnakan wudhu’ ketika masa sulit dan memperbanyak langkah ke masjid serta menunggu solat satu ke solat yang lain, kerana hal itu adalah ribath.” (HR. Muslim dan At-Tirmidzi).

    Demikian amalan penghapus dosa. Semoga kita senantiasa mampu mengindari perbuatan dosa. Astaghfiruloohal 'adzhiiim... ! Amin...!  Wallahu a'lam bish-shawab

    ,


    Hukum Membaca Al-Quran bagi Seorang Muslim.

    AL-QURAN adalah kitab suci umat Islam. Wahyu Allah yang sudah terhimpun dalam mushaf Al-Quran itu adalah pedoman hidup umat Islam sekaligus sumber utama hukum Islam.

    Dalam Al-Quranlah Allah memberikan perintah dan larangan. Al-Quran  berisi petunjuk bagi orang-orang yang beriman dan bertaqwa.

    Jika seorang Muslim tidak membaca Al-Quran, bagaimana ia tahu larangan dan perintah Allah?

    Namun, mengetahui isi Al-Quran tidak selalu harus dengan membacanya. Seorang Muslim bisa mengetahui kandungan Al-Quran lewat pengajian atau mendengarkan ceramah atau buku-buku keislaman.

    Jadi bagaimana hukum membaca Al-Quran?

    Lajnah Da’imah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta pernah membahas masalah hukum membaca Al-Quran ini sebagaimana dimuat dalam 70 Fatwa Fii Ihtiraamil Qur’an (edisi Indonesia: 70 Fatwa Tentang Al-Qur’an, Abu Anas Ali bin Husain Abu Luz, Penerbit Darul Haq).

    Lajnah Da’imah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta ditanya : Apakah hukum membaca Al-Qur’an, wajib atau sunnah, karena kami sering ditanya tentang hukumnya. Di antara kami ada yang mengatakan bahwa hukumnya tidak wajib, bila membacanya tidak mengapa dan jika tidak membacanya tidak apa-apa. Bila pernyataan itu benar tentu banyak orang yang meninggalkan Al-Qur’an, maka apa hukum meninggalkannya dan apa pula hukum membacanya ? 

    Lajnah Da’imah menjawab, yang disyariatkan sebagai hak bagi orang Islam adalah selalu menjaga untuk membaca Al-Qur’an dan melakukannya sesuai kemampuan.

    اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَاب 

    Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an)” (QS. al-Ankabut/29:45).

    وَاتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنْ كِتَابِ رَبِّكَ 
    “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Tuhanmu (Al-Qur’an)” (QS. al-Kahfi/18:27). 


    وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ ﴿٩١﴾ وَأَنْ أَتْلُوَ الْقُرْآنَ
     

    “Dan aku perintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang menyerahkan diri. Dan supaya aku membaca Al-Qur’an (kepada manusia)” (QS. An-Naml/27: 91-92). 

    Rasulullah Saw menerangkan tentang keutaman membaca Al-Quran, selain membuat seorang Muslim memahami ajarannya (Islam): 

    اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِه
     

    “Bacalah Al-Qur’an karena sesungguhnya dia datang memberi syafa’at bagi pembacanya di hari Kiamat” (HR Muslim).

    Dalam hadits Shahih Muslim lain ditegaskan besarnya pahala membaca Al-Quran:

    “Barangsiapa membaca satu huruf dari Al-Qur’an maka dia mendapat satu kebaikan, sedangkan satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipat, saya tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf, namun Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf” [HR Muslim]

    Dari paparan di atas, maka hukum membaca, memahami, dan melaksanakan isi Al-Quran adalah WAJIB bagi setiap Muslim karena Al-Quran adalah sumber utama ajaran Islam. Wallahu a'lam bish-shawabi.


Top